All kinds of Critiques

Just another WordPress.com weblog

The Lipsingers never die

Hahaha… sebuah fenomena yang aneh. Tapi sangat amat banyak terjadi di Indonesia. Gw ampe geleng-geleng kepala. Apalagi di tengah masyarakat kita yang gampang sekali latah. Perilaku ini makin menyebar saja. Apa yang sedang gw bicarakan di sini??

Yup…betul! The Lipsingers! Sebutan untuk orang-orang yang dikatakan bisa bernyanyi (gw pikir semua orang bisa bernyanyi), punya tampang (atau gaya, mode, trend, apapun itu namanya), berhoki gede (karena bisa masuk dapur rekaman), punya album atau single (dengan suara hasil editan dapur rekaman), dan yang terakhir: tidak bisa bernyanyi live (entah males, alasan suara lagi ancur, tuntutan skenario, apapun itu). Yahh…gw emang anti dengan kaum ini. Gw pikir, jika orang itu punya bakat, maka dia bisa bernyanyi secara live. Jika orang cuma ngandalin rekaman n nyanyi lipsing, semua orang juga bisa asal hafal lagu n musiknya. Jadi, yang gw sebut sebagai penyanyi adalah orang-orang yang anti-lipsing.

Dari istilahnya aja udah sangat menggambarkan pribadi kaum itu. Lipsing: Lips->bibir, sing->nyanyi. Jadi, Lipsing berarti bernyanyi dengan bibir. Soal mengeluarkan suara ya terserah yang mau nyanyi, mau suaranya dobel atau pure lipsing. Tapi, apa bibir bisa bernyanyi?? Bibir cuma bisa bernyanyi atau paling tidak mengeluarkan suara kalo lagi ciuman, bersiul atau menirukan suara tutup botol sampanye lepas. Itu juga dengan bantuan udara. Jadi, untuk bernyanyi itu butuh elemen penting yang tak tergantikan, yaitu hati. Bernyanyi itu bukan dengan bibir doang, tapi dengan hati. Sekarang gimana bisa bernyanyi dengan hati kalo suaranya berasal dari rekaman berminggu-minggu atau berbulan-bulan yang lalu? Heran aja ngebayangin apa yang dikatakan hatinya saat berlipsing itu.

Gw kesel aja, tiap pagi udah dihidangin berbagai acara yang membayar kaum Lipsingers itu. Yang paling diuntungkan ya kaum itu. Kalo pihak TVnya mah asik-asik aja. Cuma mikirin secara komersial. Yang penting acaranya laku. Ga peduli udah niru-niru acara serupa yang lebih dahulu tayang. Toh kagak ada hak patennya. Tiap dipermasalahkan pasti alasannya kebebasan berpikir dan berkreasi. Hah… We need much more hearts here, man…. Tiada kepuasan yang lebih berarti selain bernyanyi dari suara original dan dari dalam hati. Soal suara jelek atau bagus mah ga penting. Hati pasti bisa menilai jujur dengan sendirinya.

Gw salut banget ama orang-orang yang kalo nyanyi di TV itu dengan suara livenya. Mereka punya keberanian, bakat, kreativitas, improvisasi, dan tentunya, self-esteem yang tinggi. Emang rasanya deg-degan, keringet dingin, mulas, bergidik, n gemetar. Tapi semuanya itu terbayar puas dengan penampilan yang live. Kepuasan yang nikmat. Apalagi kalo yang nyanyi udah jago nge-live, pas nyanyi pasti bener-bener bisa menghayati banget. Coba kalo lipsing. Apa yang mau jadi alasan untuk gemetar, merinding, deg-degan, bla..bla..bla itu?? Ga bakal ada! Kalo ada juga karena ga hafal lagunya atau takut make-upnya cemongan!

Jadi, kapan Indonesia bisa lepas dari kaum Lipsingers ini? Selama Indonesia belum punya hati, The Lipsingers never die…

June 1, 2009 Posted by | Uncategorized | | Leave a Comment

Does Indonesian Government have guts over Malaysia?

Perairan Ambalat kembali menuai permusuhan. Kapal Malaysia memasuki wilayah tersebut tanpa izin. Indonesia cuma bisa memperingatkan agar kapal tersebut menjauhi wilayah itu. Sayang sekali… Padahal Indonesia bisa saja menembak kapal itu karena jelas-jelas Malaysia melanggar batas perairan.

Hari ini pun terjadi kasus yang menarik pihak Malaysia dan Indonesia. Kasus Manohara yang katanya disiksa di Istana Kelantan, Malaysia itu ternyata benar. Manohara akhirnya bisa selamat pulang kembali ke Indonesia berkat bantuan polisi Singapura dan kedutaan AS di Singapura. Where is our government? Don’t know… Seperti dikutip Silet, Manohara menyesalkan lambatnya pihak Kedutaan Indonesia di Malaysia atas kasus yang terjadi pada dirinya.

Sepertinya kedua kasus tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah Indonesia kurang peduli pada warga dan wilayahnya. No sense of self-belonging, kalau kata orang. Sudah banyak terjadi di sana-sini di mana TKI yang bekerja di Malaysia mendapat perlakuan kasar, tapi pemerintah Indonesia kurang sigap membela hak-hak TKI tersebut. Kedua kasus di atas pun semakin menegaskan bahwa pemerintah Indonesia seharusnya lebih sigap. Jangan mau diobrak-abrik Malaysia. Bung Karno aja sanggup, masa pemerintah yang sekarang takut?? Apalagi kita adalah pihak yang benar. Ayo, Indonesiaku! Bangkit dan jangan takut!

June 1, 2009 Posted by | Government Critics | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.